Sepatu Bolong

Hidup ini seperti air. Mengalir lewat selokan-selokan rumah, melewati sungai-sungai, dan akhirnya bermuara pada lautan luas. Itu menurutku! Dan aku tidak tahu hidupku akan berakhir seperti apa. Tragiskah? Atau bahagiakah?
Dan saat ini, baru saja langit tampak cerah, tetapi sekarang kabut abu-abu itu berarak dan kemudian berhenti tepat di atas gubuk kami. Kabut abu-abu itu lebih biasa disebut mendung. Yeach… mendung! Sama seperti hatiku yang saat ini sedang resah!
Pelahan rinai-rinai kecil mulai turun. Keresahanku pun kian menjadi. Bukan karena tidak pernah sarapan pagi ini, bukan juga karena hari ini aku tak membawa sedikitpun bekal ke sekolah, tetapi karena sepatuku.. yah! Sepatuku!! Sepatu yang kubeli setahun yang lalu dan yang sedang kukenakan kini sudah agak rusak. Warnanya sudah tak hitam lagi karena kulit luarnya sudah terkelupas, talinya sudah terputus, alasnya pun sudah menipis bahkan berlubang!
Walaupun aku bersepatu, panas aspal yang kutapaki begitu menyengat hingga telapak kakiku, tetapi yang lebih kutakutkan pada musim hujan ini. Sepatuku pasti akan karam. Air-air hujan yang kutapaki pasti akan masuk melalui lubang pada sepatuku.
Rasanya tidak pernah sampai hati meminta uang pada orang tuaku hanya untuk membeli sepatu. Maklum!! Adikku lima! Masih kecil-kecil dan ibuku , ia hanya seorang pemulung. Kami adalah keluarga pemulung mengais nafkah dari sisa. Mencari rasa hati dari sisa yang terbuang .. yeaach… mencari hatimu! Satu lagi aktor yang belum kuperkenalkan kepadamu, ayahku! Ia nahkoda kapal kami, tetapi kini ia telah tenggelam dalam lautan terdalam kehidupan ini meninggalkan kamid an setir kehidupan kami. Bukan karena terpaksa, ibu, aku, dan kelima adikku harus memulung.
Kami telah membagi waktu. Aku dan keempat adikku yang masih sekolah memulung sejak sepulang sekolah. Kami hanya terpaut dua tahun. Kasihan ibu dan adikku Rizky si bungsu laki-laki satu-satunya cerminan ayahku. Tempat kumelihat ayah setiap kali aku merindukannya. Mereka harus memulung dari pagi hingga sore. Ketika senja berkuasa, kami berarak pulang seperti merpati putih berarak pulang dan itu adalahsaat-saat yang tidak ingin kugantikan dengan apapun!!
Baik.. baik..!! sudah cukup!! Aku tidak bermaksud mengeksploitasi kesedihanmu. Aku hanya ingi kamu tahu bahwa ada sisi lain dalam kehidupan ini.. yaaah! Begitu gelap… tak berwarna selain itu…!
***
Rinai-rinai kecil tadi semakin besar. Kupaksakan kakiku untuk berlari lebih kencang lagi, tetapi tetap saja air-air itu menerobos masuk melalui lubang pada sepatuku. Kakiku terasa dingin. Sampai sekolah aku berteduh. Kini bukan hanya kakiku yang dingin, tetapi tubuhku pun terasa dingin.

“Mengapa kamu di sini?”
“Berteduh, Bu. Dingin sekali.”
“Ya, betul.. Dingin sekali, ayo masuk!” Sapa Bu Yuni kepadaku yang melihatku berdiri tepat di samping meja scurity.
Hujan lebat tadi perlahan telah berhenti. Kabut abu-abu itu pun telah sirna. Cahaya dari sela-sela awan putih yang tampak seperti kapas putih itu menyilaukan pengelihatanku. Aku beranjak dari tempatku tadi dan berjalan menuju kelas, tetapi sepatuku masih saja basah. Akhirnya kubuka kaos kakiku agar kakiku tak sedingin tadi. Beruntung kutemukan plastik hitam kemudian kumasukkan kaos kakiku ke dalam plastik itu. Jadilah aku tak memakai kaos. Tak mengapa, itu sudah terbiasa terjadi padaku!
“Bagi siswa-siswi yang sudah berada di sekolah, silakan menuju lapangan karena kita akan segera berdoa.”
Terdengar suara seorang siswa dari speaker yang tak jauh dari tempatku berdiri. Kini di sekelilingku sudah banyak yang berbaris. Sepatu mereka tampak sangat bagus. Entah apa yang mereka gunakan hingga sepatu mereka tampak kinclong. Minyak gorengkah? Atau memang semir yang sering nongol di tv-tv itu? Sungguh aku tak tahu!
Jangankan semir, minyak goreng ibu saja tak berani kusentuh hanya untuk sekedar men-cling-kan sepatuku yang sudah tak layak pakai karena memang harga minyak goreng pun sudah sangat mahal bagi kami.
***
Siang ini matahari tak brkedip walau hanya sebentar saja karena mendung memang tak sedang bergelayut manja. Telapak kakiku terasa amat panas menyusuri sepanjang jalan beraspal. Berbeda sekali dengan pagi tadi.
***
“Aya! Belilah sepatu! Ibu lihat sepatumu sudah tidak seperti sepatu.”
“Memang sepatuku seperti apa, bu?”
Ibu tak menjawab tanyaku. Kuputar-putar sepatuku. Kutatap lekat-lekat setiap sudutnya. Benar kata ibu, sepatuku sudah tidak seperti sepatu!
Saat ini memang terasa lebih hangat, bukan karena panas matahari yang menyengat, tetapi saat ini ibu sedang memelukku dan mengusap rambutku. Semoga ini bukan saat terakhir ibu memelukku.
“Bu, kalau aku beli sepatu apakah besok pagi dan besok lusa kita masih bisa makan?”
“Lihatlah kakimu! Tidakkah kau merasakan perihnya?”
“Lalu bagaimana dengan adik-adikku?”
“Ibu akan membuatkan adik-adikmu bubur beras.”
“Tanpa lauk?”
Lagi-lagi ibu tak menjawab tanyaku. Aku tahu ibu sedang berpikir keras bagaimana menghadapi keadaan sulit ini. Wajahnya yang teduh terlihat gusar. Ingin sekali kuambil beban berat di pundaknya, tetapi ibuku adalah wanita perkasa teladan hidupku. Ia tetap tersenyum meski langit runtuh menenggelamkan dirinya!
***
Rembulan masih berkibar menguasai angkasa. Seperti biasa, sepagi ini aku telah mendahului matahari sebelum ia membuka matanya. Kupikul beban berat para penghuni pasar sebelum hendak menyongsong ilmu. Lumayan! Hasilnya bisa kugunakan untuk membeli buku. Sisanya kukembalikan pada ibu. Setelah mendengar apa yang dikatakan ibu kemarin membuatku harus semakin bekerja keras. Itu tak mengapa bagiku!
Sudah beberapa hari ini ibu memulung hingga malam. Setiap sore bertemu ibu hanya memintaku mengajak Rizky pulang dan menunggunya di rumah. Setiap kali kutanyakan mengapa padanya, ia hanya tersenyum dan berkata akan segera pulang. Ia memang tidak banyak bicara. Hanya tersenyum dan bekerja seperti telah mengetahui takdir kehidupan. Itulah ibuku!
“Mana ibu, kak Aya? Mengapa sampai saat ini ibu belum juga pulang?”
Adik-adikku merengek dengan diksi yang itu-itu saja. Aku berusaha supaya terlihat tidak gusar, tetapi melihat raut wajah Rizky, air mataku tak mampu terbendung lagi. Aku menangis tak mampu seperti ibu.
***
Malam ini hujan turun begitu deras sementara jarum waktu telah menunjukkan angka 20.00 Wita. Ibu di mana? Ia belum juga pulang. Lima belas menit kemudian terdengar suara seseorang mengetuk pintu rumah kami.
“Itu ibu, kak Aya!!” Aku dan adik-adikku berlarian membuka pintu.
“Ibu..!!” Adik-adikku menjerit kegirangan.
Ternyata itu bukan ibu. Ia adalah Uak haji yang sering membantu kami.
“Aya, di mana ibumu?” tanya Uak haji. Pertanyaannya meluncur deras layaknya tank-tank Israel yang menjamah negeri dengan julukan negeri jihad itu.
“Ibu belum pulang, uak. Ada pa?” aku bertanya dengan suara bergetar.
“Kalau begitu ikut ke sungai dengan uak. Cepat!”
Baru kali ini aku mendengar Uak haji berkata dengan keras. Air mataku mulai tumpah. Aku takut terjadi apa-apa dengan ibuku. Di tengah derasnya air hujan, uak, aku, dan kelima adikku menyusuri jalan panjang menuju sungai. Kami telah tiba di sungai . Uak mengatur kata-katanya pelan tapi menusuk ulu hatiku.
“Itu ibumu, Aya!” Ucapnya meruntuhkan karang sanubariku
“Bukan! Itu bukan ibuku, uak!” Ucapku menjerit.
Adik-adikku menangis dan memeluk tubuh beku itu. Sesaat kemudian, aku membuka karung yang digunakannya untuk memulung. Di dalamnya ada plastik hitam berisi sesuatu. Setelah kukenakan pas sekali pada kakiku dan aku mulai menyadari tubuh beku wanita paruh baya itu adalah tubuh seorang perempuan yang rahimnya dulu pernah kusinggahi. Kini ia telah beku dan tak mampu lagi memeluk kami dan sepatu itu memang untukku.
Hujan hampir reda, di sekelilingku telah banyak orang. Uak haji terap menasihatiku. Yaaah! Tuhan memang menciptakannya untuk menolong kami. Inikah muara kehidupanku? Bukan! Ini belum berakhir!
Beberapa saat kemudian terasa sangat sepi, sepi.. Entah ke mana suara-suara itu dan akhirnya hanya gelap.. sangat gelap…
***

B. Nila Fatimatasari

Matang Sebelum Waktunya

Lihat kebunku
Penuh dengan bunga
Ada yang putih dan ada yang merah
Setiap hari kusiram semua
Mawar melati semuanya indah…
Ada yang masih ingat lagu itu? Ya! lagu berjudul “Lihat Kebunku” dan sebangsanya itu sudah sangat jarang kita dengar pada saat ini, bahkan tidak pernah. Lalu ke mana perginya? Entahlah, barangkali ikut lenyap seiring dengan bertumbuh dewasanya para penyanyi cilik yang dulu ikut meramaikan kancah entertainment negeri ini.
Dulu kita senang mendengar anak-anak bernyanyi, bahkan sesekali orang dewasa pun ikut bernyanyi menyanyikan lagu anak-anak, tetapi sekarang justru lagu-lagu aneh yang terucap dari bibir mungil mereka. Anak-anak sepertinya lebih tertarik dengan lagu-lagu band remaja, lagu bertajuk kekerasan dengan kata-kata yang tidak baik untuk diucapkan, dan lagu-lagu bertema percintaan yang sangat tidak sesuai dengan usia mereka. Inilah fenomena yang cukup serius terjadi pada saat ini, anak-anak umur jagung yang dididik dan dicetak dengan mudah seperti mengikuti iklan.
            Bagaimana tidak? Stasiun televisi memuat acara yang kebanyakan dikonsumsi oleh remaja atau dewasa, sedangkan  acara yang seharusnya dikonsumsi oleh anak-anak justru tidak dibentuk semenarik mungkin. Walhasil penyanyi cilik jadi kalah pamor dan tidak diminati lagi.
            Tanpa kita sadari, dengan problem semacam itu membuat sikap anak-anak berubah, khususnya mental mereka. Lihat saja gaya berpakaian mereka, gaya rambut, perhatikan dari ujung kaki sampai ujung kepala banyak dari mereka yang mengikuti gaya artis yang mereka idolakan. Ada yang mengatakan “kalau tidak ikut gaya si Anu gak keren oooyy..”. Anak-anak sudah mulai mengenal ‘cinta-cintaan’, atau mungkin lebih jauh lagi, bahkan yang sangat mengiris hati tindakan-tindakan kekerasan sudah mulai berani mereka lakukan. Subhanallah.
            Lebih parahnya lagi, beberapa waktu yang lalu ada sebuah acara mencari bakat menyanyi anak-anak yang diselenggarakan di salah satu stasiun televisi, tapi yang aneh justru anak-anak dibolehkan memilih lagu yang mereka inginkan sebagai penilaian danada dari mereka justru memilih untuk menyanyikan lagu remaja!. lagi lagi lagu yang mereka nyanyikan tidak sesuai dengan usia mereka, sangat ironis bukan, anak-anak dibolehkan menyanyikan lagu dewasa yang isinya patah hati.
                                                       
Masa anak–anak yang harusnya dilalui dengan penuh keceriaan dan kreatifitas saat ini menyanyikan lagu patah hati. Anak-anak tak lagi asyik, kelakuannya tak lagi menarik. Bukankah buah-buahan lebih enak jika matang di pohon, lebih manis rasanya, bahkan lebih bernutrisi. Sama seperti anak-anak, masa kecil mereka harus penuh keceriaan dan kreatifitas agar siap menyongsong hari esoknya menjadi lebih baik, dicetak menjadi generasi penerus bangsa, dan meraih cita yang gemilang, tapi saat ini anak-anak seperti telah matang sebelum waktunya bahkan layu sebelum berkembang. Mau dibawa ke mana masa depan mereka, haruskah patah seperti lagu-lagu itu? Sehingga ada baiknya dalam hal ini kita mengenang kembali pahlawan yang juga sangat besar jasanya dalam menciptakan lagu anak-anak. Mari kita renungkan bersama!

Masa kanak-kanak adalah masa pembelajaran utama, sebab pada masa kanak-kanak merupakan fase yang lebih dekat dengan keluarga dan lingkungan. Saat itulah anak-anak diberikan pendidikan utama yang bersumber langsung dari orang tua seperti agama, budi pekerti, dan lain-lain, sudah menjadi tugas yang lebih dewasa mengurus anak-anak, seperti mendampinginya seperti dalam hal menonton televisi, mencarikan tuntunan untuk dijadikan tontonan, dan memperlihatkan tontonan yang layak dijadikan tuntunan, bahkan mendampinginya bermain. Mendamping bukan berarti mengekang, tapi mengontrol setiap yang dilakukan oleh anak agar anak tidak mengalami ‘lost control’ sehingga di setiap fase pertumbuhannya, anak-anak mengetahui yang baik dan tidak baik untuk dilakukan.

Oleh: B. Nila Fatimatasari